Jumat, 26 September 2014


<Tes kepribadian>
bisa di liahat dari komposisi jari kaki.
       

 

 

 

 Bisa kamu liaht disini,.


Kamis, 25 September 2014

Konversi bilangan ASCII dan Perumusan



ASCII singkatan dari American Standard Code for Information Interchange (Kode Standar Amerika untuk Pertukaran Informasi). Merupakan kode standar yang digunakan dalam pertukaran informasi pada Komputer Komputer hanya dapat memahami nomor, maka kode ASCII adalah representasi numerik dari karakter seperti 'a' atau '@' atau tindakan dari beberapa macam.

Jumlah kode ASCII adalah 255 kode. Kode ASCII 0 – 127 merupakan kode ASCII untuk manipulasi teks; sedangkan kode ASCII 128..255 merupakan kode ASCII untuk manipulasi grafik. Sedangkan yang akan kita bahas kali ini mengenai kode ASCII 0 – 127 untuk manipulasi teks. Setiap simbol yang ada di keyboard memiliki kode ASCII. Sebagai contoh Huruf A memiliki kode ASCII 65; huruf a memiliki kode ASCII 97. Kode ASCII 65 dalam implementasinya diterjemahkan ke kode Biner (penjelasan terdapat dalam tabel dibawah). Kode ASCII dalam implementasinya diterjemahkan ke kode biner. Kode ASCII sebenarnya memiliki komposisi bilangan biner sebanyak 8 bit. Dimulai dari 0000 0000 hingga 1111 1111.

Kode ASCII sendiri dapat dikelompokkan lagi kedalam beberapa bagian:

·         Kode yang tidak terlihat simbolnya seperti Kode 10(Line Feed), 13(Carriage Return), 8(Tab), 32(Space)

·         Kode yang terlihat simbolnya seperti abjad (A..Z), numerik (0..9), karakter khusus (~!@#$%^&*()_+?:”{})

·         Kode yang tidak ada di keyboard namun dapat ditampilkan. Kode ini umumnya untuk kode-kode grafik

Kode bernilai sampai dengan 31 dinamakan kode control, sedangkan 32 sampai dengan 126 adalah kode ASCI yang dapat ditampilkan. Alfabet A sampai Z diwakili oleh kode desimal 65 sampai 90. Untuk kode ASCII yang lain mari kita lihat tabel dibawah ini :

Untuk tabel manipilasi grafiknya ada dibawah ini:

Setiap kode ASCII itulah yang kemudian akan dikonfersi kebilangan biner sehingga terbentuk bit-bit yang terdiri dari bit ‘0’ dan bit ‘1’. Bit inilah yang akan dikirimkan dan pada penerima akan dikodekan kembali. Kemudian bit-bit tadi yang dikirimkan dan akan dikodekan kembali kedalam teks aslinya. Proses inilah yang dinamakan decoding. Misalnya kita ingin mengirimkan pesan “lidya”. Maka setiap huruf yaitu l,i,d,y,a akan dikodekan menjadi biner.

Kode ASCII untuk setiap huruf :

-          l = 108 = 0110 1100 (yang dikirim pertama)

-          i = 105 = 0110 1001

-          d = 100 = 0110 0100

-          y = 121 = 0111 1001

-          a = 97 = 0110 0001 (yang dikirim terakhir)

Kemudian bit-bit tadi yang dikirimkan dan akan dikodekan kembali kedalam teks aslinya. Asumsikan pengiriman tanpa gangguan. Maka, pada penerima akan diterima kode-kode bit

01101101  01101001  01110010  01101001  01101011

Kemudian kode-kode bit itu akan diterjemahkan dengan memisah menjadi 8 bit.

0110 0001  =  97 = a (yang diterima terakhir)

0111 1001  = 121 = y

0110 0100  = 100 = d                            

0110 1001  = 105 = i

0110 1100  = 108 = l (yang diterima pertama)

Maka diterjemahkan bahwa pesannya adalah kata “lidya”

Perumusan Sistem Bilangan

1.      BINER (basis 2) dengan simbol bilangan 0 dan 1.

2.      OKTAL (basis 8) dengan simbol bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7.

3.      DESIMAL  (basis 10) dengan simbol bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9

4.      HEKSADESIMAL (basis 16) dengan simbol bilangan 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, A, B, C, D, E, F

KONVERSI SISTEM BILANGAN

1.       Basis X ke DESIMAL

·            Untuk bilangan bulat, kalikan bilangan tersebut dengan  pangkat basis X sesuai dengan nilai  tempat/bobot

            - Contoh :   1458 = ……..10

                              1458 = 1x82 + 4x81 + 5x80  =   64  +  32    +   5   = 10110

·         Untuk bilangan pecahan, kalikan bilangan tersebut dengan  pangkat negatif basis X sesuai dengan nilai tempat/bobot

            - Contoh :   0, 128 = ……..10

            0,12    =  1 x 1/81  +  2 x 1/82   = 1/8  +  2/64  

                        =1/8 + 1/32   =4/32 + 1/32   =  5/32

2.      DESIMAL ke Basis X

·         Untuk bilangan bulat, bilangan tersebut dibagi dengan basis X

·         Untuk bilangan pecahan, kalikan bilangan tersebut dengan basisnya

3.      BASIS X ke BASIS Y

·         Bilangan tersebut diubah ke desimal (lihat no. 1) kemudian ubah desimal tersebut ke basis Y (lihat no. 2).

4.      BINER ke OKTAL dan sebaliknya

·         3 bit biner (dimulai dari titik radiks) = 1 digit oktal

5.      BINER ke HEKSADESIMAL dan sebaliknya

·                     4 bit biner (dimulai dari titik radiks) = 1 digit heksadesimal

6.      KODE BINER

    Kode Biner yg berbobot ®BCD (Binary coded Decimal)

Contoh : kode BCD 8421 artinya MSB = Most Significant Bit mempunyai bobot 8, sedang LSB = Least Significant Bit mempunyai bobot 1.

* Konversi BCD ke  sistem bilangan basis yang lain :

-          BCD ke basis X ® ubah BCD ke Desimal kemudian ubah Desimal ke basis X.

Contoh :                       000101011 . 00100101BCD  = …… 2

            0 0010 1001  . 0010  0101   = 29,2510 =11101, 012                0    2         9      ,    2        5

2.       Kode Biner yang tidak berbobot

-          Kode Excess-3 ® kode yang tiga angka lebih besar dari BCD 8421.

            Contoh :   6210 = …….xs3

Caranya : Tambah desimal 3  di setiap digit desimalnya kemudian ubah des. tersebut ke BCD, sehingga hasilnya menjadi           6   2 3   3  + 9   5  ®  1001 0101(xs3)          

-  Kode  Gray ® kenaikan hitungan (penambahan) dilakukan hanya dengan pengubahan keadaan satu bit saja.
              Contoh :   210 = …..kode gray
Caranya : ubah des. ke biner dahulu ® 0010

                                                 0      0 1

            BINER ®           0    0      1      0   +

 KELABU®       0         0          1      1

                                                                                                                      

Kode Gray sering  digunakan dalam situasi dimana kode biner yang lainnya mungkin menghasilkan kesalahan atau kebingungan selama dalam transisi dari satu word kode ke word kode yang lainnya, dimana lebih dari satu bit dari kode diubah.

·         KODE ASCII   termasuk kode Alfanumerik .

Contoh : cari kode heksadesimal dan desimal untuk huruf b dalam kode ASCII.

-                     Cari b dalam tabel 2.9 Kode ASCII (Pengantar Organisasi Komputer, GUNADARMA, halaman 68) nilai barisnya adalah (6)16 = (0110)2 dan nilai kolomnya adalah  (2)16 = (0010)2. Jadi kode ASCII untuk b adalah (62)16 atau (01100010)2.

·         REPRESENTASI FLOATING-POINT

-        Menyatakan suatu bilangan yang sangat besar/sangat kecil dengan menggeser titik desimal secara dinamis ke tempat yang sesuai dan menggunakan eksponen 10 untuk menjaga titik desimal itu.

-  Sehingga range bilangan yang sangat besar dan sangat kecil untuk direpresentasikan hanya dengan beberapa digit saja.

-  Dinyatakan dengan notasi ® a = (m,e) , dimana :

a= m x re       r = radiks

                           m = mantissa

                            e = eksponen

Contoh : Tunjukkan bilangan-bilangan berikut ini dalam notasi floating point.

a.    (45.382)10® 0.45382 x 102 = (0.45382,2)

b. (-21,35)8 ® -2135,0 x 8-2 = (-2135.0,-2)

ARITMATIKA FLOATING POINT

-                      Penambahan  0,63524 x 103

0,63215 x 103  +

                        1,26739 x 103 ® 0,126739 x 104

-           Pengurangan               0,63524 x 103

                                                            0,63215 x 103  -

                                                             0,00309 x 103® 0,309 x 101

-                                  0,10100 x 22  ® 0,01010 x 23

0,11000 x 23  ® 0,11000 x 23   +

                                      1,00010 x 23 ® 0,10001 x 24

-           Perkalian

(0,253 x 102) x (0,124 x 103) = (0,253) x (0,124) x 102+3 = 0,031 x 105 ® 0,31 x 104 normalize

-           Pembagian      0,253 x 102 = 0,253 x 102-3

                                                0,124 x 103     0,124  

                                              

= 2,040 x 10-1 ® 0,204 x 100 overflow        

·                            REPRESENTASI FIXED POINT       

Radiks point/binary point tetap dan diasumsikan akan berada di sebelah kanan dari digit yang paling kanan.

1.            Representasi Sign-Magnitude/Nilai tanda

Untuk merepresentasikan bilangan integer negatif dan positif. Dengan menggunakan MSB sebagai bit tanda ®0 = positif, 1 = negatif       

Contoh :

Sign-Magnitude +9 dalam 8 bit  = 00001001  

Sign-Magnitude –4 dalam 4 bit  = 1100

Magnitude dari bilangan positif dan negatif sama hanya beda pada sign digitnya/MSB.

2.            Representasi Komplemen-1

Untuk mendapat komplemen-1 maka bilangan nol diubah menjadi satu dan satu menjadi nol.

3.            Representasi Komplemen-2

Langkah-langkah : Pengubahan bilangan desimal bertanda ke bilangan komplemen-2 (8-bit)

·         Tentukan bit tanda/MSB ® 0 = positif, 1 = neg.

·         Ubah desimal ke biner (7-bit)

·         Ubah ke kompl-1 (setiap 0 diubah ke 1 dan setiap

      1 diubah ke 0)

·         Ubah ke kompl-2 (tambahkan +1 ke kompl-1

      untuk mendapat bil. kompl-2)

·         Gabung menjadi satu yaitu MSB sebagai tanda

      bit dan 7-bit sebagai besarannya.

Langkah-langkah : Pengubahan bil. kompl-2 (8-bit) ke bil. des. bertanda

·         Tentukan bit tanda/MSB

·         Ubah 7-bit kompl-2 tersebut  ke kompl-1

·         Ditambah +1 ke kompl-1

·         Ubah biner ke desimal

ARITMATIKA FIXED POINT

              Penambahan positif, negatif, dan secara kebalikan bil-bil. biner yang diberi tanda yang direpresentasikan dalam komplemen-2.

              001110 (+14)                                                              110010 (-14)

       + 001100 (+12)                 end carry     +  110100 (-12)

              011010 (+26)                                            1 100110 (-26)

SOAL UTS SEMESTER GANJIL

Sistem Bilangan (Desimal,Biner,Okta,dan Heksadesimal)
         Pada dasarnya pengolahan teknologi digital tuh menggunakan bilagan biner.Tapi untuk memenuhi pengolahan data yg lebih efektif dan efisien maka dibuat sistem bilangan oktal dan hexa…
Biner adalah bilangan yang hanya terdiri dari 2 bilangan, yaitu 0 dan 1…
Oktal adalah bilangan yang terdiri dari 8 bilangan, yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7…
Hexa adalah bilangan yang terdiri dari 16 bilangan, yaitu 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,A,B,C,D,E,F…
Permasalahan yang sering timbul adalah bagaimana caranya mengkonversi dari satu ke yang lainnya… Berikut juga operasi2 yang dapat dilakukan kepadanya :
Contoh :
Biner: 01 kalo dalam desimal tuh maksudnya 0*21 + 1*20 = 1.
Oktal juga sama cuma tinggal ganti 2 ma angka 8, begitpun hexa cuma tinggal ganti 2 a angka 16…
Masalahnya gmana cara cepatnya kalo mau konversi dari bilangan biner ke oktal atau hexa…
Prinsionya adalah dengan memanfaatkan karakteristik bilangan itu sendiri
Bilangan biner merupakan bilangan dengan perpangkatan max 21 , sedangkan oktal adalah bilangan dengan perpangkatan max 23 , dan hexa adalah bilangan dengan perpangkatan max 24 .
Maksudnya adalah 3 bilangan di depan/belakang koma pada biner merupakan satu bilangan di depan/belakang koma pada oktal. Begitu juga kalo mau hexa, 4 bilangan di depan/belakang koma pada biner merupakan satu bilangan di depan/belakang pada hexa.
Contohnya…
Biner: 10111,1100
Oktal:
Liat 3 bilangan depan koma: 111 dan 010 (kalo paling depan dah gak ada angka tambahin aja dengan 0)
Liat 3 bilangan belakang koma: 110 dan 000 (kalo paling depan dah tidak ada angka tambahkan  dengan 0)
Konversi:111=1*22 +1*21 +1*20 =7; 010=0*22 +1*21 +0*20 =2;110=1*22 +1*21 +0*20 =6;000=0*22 +0*21 +0*20 =0.
Jadi dalam oktal 10111,1100=27,60…
Begitu juga dengan hexa

A. Konversi Antar Basis Bilangan

Sudah dikenal, dalam bahasa komputer terdapat empat basis bilangan. Keempat bilangan itu adalah biner, oktal, desimal dan hexadesimal. Keempat bilangan itu saling berkaitan satu sama lain. Rumus atau cara mencarinya cukup mudah untuk dipelajari. Konversi dari desimal ke non-desimal, hanya mencari sisa pembagiannya saja. Dan konversi dari non-desimal ke desimal adalah: 1. Mengalikan bilangan dengan angka basis bilangannya. 2. Setiap angka yang bernilai satuan, dihitung dengan pangkat NOL (0). Digit puluhan, dengan pangkat SATU (1), begitu pula dengan digit ratusan, ribuan, dan seterusnya. Nilai pangkat selalu bertambah satu point.

1. Konversi Biner ke Oktal

Metode konversinya hampir sama. Cuma, karena pengelompokkannya berdasarkan 3 bit saja, maka hasilnya adalah: 1010 (2) = …… (8) Solusi: Ambil tiga digit terbelakang dahulu. 010(2) = 2(8) Sedangkan sisa satu digit terakhir, tetap bernilai 1. Hasil akhirnya adalah: 12.

2. Konversi Biner ke Hexadesimal

Metode konversinya hampir sama dengan Biner ke Oktal. Namun pengelompokkannya sejumlah 4 bit. Empat kelompok bit paling kanan adalah posisi satuan, empat bit kedua dari kanan adalah puluhan, dan seterusnya. Contoh: 11100011(2) = …… (16) Solusi: kelompok bit paling kanan: 0011 = 3 kelompok bit berikutnya: 1110 = E Hasil konversinya adalah: E3(16)

3. Konversi Biner ke Desimal

Cara atau metode ini sedikit berbeda. Contoh: 10110(2) = ……(10) diuraikan menjadi: (1×24)+(0×23)+(1×22)+(1×21)+(0×20) = 16 + 0 + 4 + 2 + 0 = 22 Angka 2 dalam perkalian adalah basis biner-nya. Sedangkan pangkat yang berurut, menandakan angkat 0 adalah satuan, pangkat 1 adalah puluhan, dan seterusnya.

4. Konversi Oktal ke Biner

Sebenarnya, untuk konversi basis ini, haruslah sedikit menghafal tabel konversi utama yang berada di halaman atas. Namun dapat dipelajari dengan mudah. Dan ambillah tiga biner saja. Contoh: 523(8) = …… (2) Solusi: Dengan melihat tabel utama, didapat hasilnya adalah: 3 = 011 2 = 010 5 = 101 Pengurutan bilangan masih berdasarkan posisi satuan, puluhan dan ratusan. Hasil: 101010011(2)

5. Konversi Hexadesimal ke Biner

Metode dan caranya hampir serupa dengan konversi Oktal ke Biner. Hanya pengelompokkannya sebanyak empat bit. Seperti pada tabel utama. Contoh: 2A(16) = ……(2) Solusi: A = 1010, 2 = 0010 Hasil: 101010(2). Dengan catatan, angka “0″ paling depan tidak usah ditulis.

6. Konversi Desimal ke Hexadesimal

Ada cara dan metodenya, namun bagi sebagian orang masih terbilang membingungkan. Cara termudah adalah, konversikan dahulu dari desimal ke biner, lalu konversikan dari biner ke hexadesimal. Contoh: 75(10) = ……(16) Solusi: 75 dibagi 16 = 4 sisa 11 (11 = B). Dan hasil konversinya: 4B(16)

7. Konversi Hexadesimal ke Desimal

Caranya hampir sama seperti konversi dari biner ke desimal. Namun, bilangan basisnya adalah 16. Contoh: 4B(16) = ……(10) Solusi: Dengan patokan pada tabel utama, B dapat ditulis dengan nilai “11“. (4×161)+(11×160) = 64 + 11 = 75(10)

8. Konversi Desimal ke Oktal

Caranya hampir sama dengan konversi desimal ke hexadesimal. Contoh: 25(10) = ……(8) Solusi: 25 dibagi 8 = 3 sisa 1. Hasilnya dapat ditulis: 31(8)
25 : 8 sisa 1 3 ——– 3 hasilnya adalah 31

9. Konversi Oktal ke Desimal

Metodenya hampir sama dengan konversi hexadesimal ke desimal. Dapat diikuti dengan contoh di bawah ini: 31(8) = ……(10) Solusi: (3×81)+(1×80) = 24 + 1 = 25(10)
Untuk Lebih Lengkapnya Silahkan Download disini

  Sistem Pengkodean Data(BCD, SBCDIC, EBCDIC dan ASCII)

A. Pengertian Data
Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian dan kesatuan nyata. Kejadian (event) adalah sesuatu yang terjadi pada saat tertentu. Sebagai contoh, dalam dunia bisnis kejadian-kejadian nyata yang sering terjadi adalah perubahan dari suatu nilai yang disebut dengan transaksi. Misalnya penjualan adalah transaksi perubahan nilai barang menjadi nilai uang atau nilai piutang dagang. Kesatuan nyata (fact and entity) adalah berupa suatu obyek nyata seperti tempat, benda dan orang yang betul-betul ada dan terjadi. Sumber dari informasi adalah data. Data merupakan bentuk jamak dari bentuk tunggal data-item. Data merupakan bentuk yang belum dapat memberikan manfaat yang besar bagi penerimanya, sehingga perlu suatu model yang nantinya akan dikelompokkan dan diproses untuk menghasilkan informasi.
Setiap data mempunyai kode yang berbeda satu sama lain. Kode berupa kumpulan simbol khusus yang digunakan untuk membentuk sebuah data. Sekumpulan symbol khusus yang digunakan untuk mewakili sebuah data atau kode data merupakan sekumpulan bilangan atau angka yang memiliki aturan tertentu. Sistem bilangan yang dipakai pada komputer adalah biner (2 simbol), octal (8 simbol), heksadesimal (16 simbol). Suatu cara penggambaran himpunan simbol yang digunakan dalam komunikasi data agar data yang dikirimkan oleh peralatan pengirim dapat diterima dan dimengerti oleh peralatan penerima.
Sistem pengkodean satu tingkat :
Sumber data→encoder→kanal→decoder→user
B. Skema Pengkodean
Skema pengkodean adalah pemetaan sederhana mulai dari bit-bit data sampai menjadi elemen-elemen sinyal. Teknik yang paling sederhana adalah Pulse Code Modulation (PCM), yang melibatkan pengambilan sample analog data secara periodik dan mengkuantisasi sample. Data digital, sinyal digital: bentuk paling sederhana dari pengkodean digital dari data digital ditetapkan satu level voltase untuk biner satu dan lainnya untuk biner nol. Skema pengkodean yang lebih kompleks digunakan untuk meningkatkan kinerja, dengan cara mengubah spektrum sinyal serta dengan menyediakan kemampuan sinkronisasi.
C. Kombinasi Pengkodean
Digital signaling: sumber data g(t) berupa digital atau analog, dikodekan menjadi sinyal digital x(t) berdasarkan teknik tertentu. Analog signaling: sinyal input m(t) disebut “modulating signal” dikalikan sinyal pembawa, hasil modulasi berupa sinyal analog s(t) disebut “modulated signal”.
Ada 4 kombinasi hubungan data dan sinyal digital :
1. Perangkat pengkodean data digital menjadi sinyal digital lebih sederhana dan murah daripada perangkat modulasi digital-to-analog.
2. Konversi data analog ke bentuk digital memungkinkan penggunaan perangkat transmisi dan switching digital.
3. Beberapa media transmisi hanya bisa merambatkan sinyal analog, misalnya unguided media.
4. Data analog dapat dikirimkan dalam bentuk sinyal baseband, misalnya transmisi suara pada saluran pelanggan PSTN.
 Data digital, sinyal digital.
Ini merupakan bentuk paling sederhana dari pengkodean digital dari data digital di tetapkan satu level voltase untuk biner satu dan yang lainnya untuk biner nol. Skema pengkodean yang lebih kompleks digunakan untuk meningkatkan kinerja, dengan cara mengubah spektrum sinyal serta dengan menyediakan spektrum sinkronisasi. Sinyal-sinyal digital merupakan deretan pulsa voltase terputus-putus yang berlainan dan mempunyai ciri-ciri tersendiri
 Data digital, sinyal analog.
Hal ini bisa dilakukan oleh sebuah modem yang mengubah data digital menjadi sinyal analog sehingga dapat di transmisikan sepanjang saluran analog. Contohnya mentransmisikan data digital melalui saluran telepon umum.
Tiga dasar pengkodean untuk mentransformasikan data digital menjadi sinyal-sinyal analog :
1. Amplitude-shift keying (ASK)
Dua biner dilambangkan dua amplitudo berbeda dari frekuensi sinyal pembawa. Teknik ini digunakan untuk mentransmisikan data digital sepanjang serat optik.
2. Frequency- shift keying (FSK)
Dua biner yang ditunjukkan oleh dua frekuensi berbeda didekat frekuensi pembawa.Teknik ini digunakan untuk operasi full duplex sepanjang jalur derajat suara.
3. Phase- shift keying (PSK)
Biner 1 ditunjukkan dengan cara mengirimkan hentakan sinyal dari fase yang sama seperti hentakan sinyal yang dikirim sebelumnya.
 Data analog, sinyal digital.
Data analog (suara dan video) diubah ke bentuk digital agar mampu menggunakan fasilitas- fasilitas transmisi digital. Perangkat yang digunakan untuk mengubah data analog menjadi data digital dan melindungi data analog yang asli dari kondisi digital disebut kodek (koder - dekorder).
Alasan teknik digital digunakan untuk mentransmisikan data analog :
• Karena repeater yang digunakan sebagai pengganti amplifier, tidak terdapat derau tambahan.
• Time-division multiplexing (TDM) dipergunakan untuk sinyal-sinyal digital sebagai pengganti frequency-division multiplex (FDM) yang dipergunakan untuk sinyal-sinyal analog. Dengan TDM, tidak terrdapat derau intermodulasi, seperti apa yang dihadapi bila menggunakan FDM.
• Konversi ke pesinyalan digital memungkinkan penggunaan teknik-teknik switching digital yang lebih efisien.
 Data analog, sinyal analog.
Data analog di modulasikan oleh suatu frekuensi pembawa agar menghasilkan sinyal analog band frekuensi yang berlainan, yang dapat digunakan pada sistem transmisi analog. Modulasi didefinisikan sebagai proses menggabungkan suatu sinyal input m(t) dengan sinyal pembawa pada frekuensi f agar menghasilkan sebuah sinyal s(t) yang bandwidhtnya dipusatkan pada tengah-tengah. Untuk data digital, keperluan modulasi harus jelas.
Alasan digunakan modulasi analog dari sinyal-sinyal analog :
• Diperlukan frekuensi yang lebih tinggi agar transmisi yang dilakukan lebih efektif. Untuk transmisi unguided, kelihatan tidak mungkin mentransmisikan sinyal - sinyal baseband, karena diperlukan antena- antena yang memiliki diameter beberapa kilometer.
• Modulasi memperbolehkan frequency-modivision multiplex.
D. Definisi Format Pengkodean Sinyal Digital
1. Nonreturn to zero-Level ( NRZ-L)
0 = level tertingg
1 = level terendah
2. Nonreturn to Zero-Inverted ( NRZ-I)
0 = tanpa transisi pada permulaan interval ( satu bit waktu )
1 = transisi pada permulaan interval Bipolar
3. Bipolar-AMI
0 = tanpa sinyal pada jalur
1 = level positif atau negatif, alternatif untuk satu yang berturut-turut
4. Pseudoternary
0 = level positif atau negatif, alternatif untuk nol yang berturut-turut
1 = tanpa sinyal pada jalur
5. Manchester
0 = transisi dari tinggi ke rendah di pertengahan interval
1 = transisi dari rendah ke tinggi di pertengahan interval
6. Diferensial Manchester
selalu terdapat transisi di pertengahan interval
0 = transisi di permulaan interval
1 = tidak ada transisi dipermulaan interval
7. B8ZS
sama sebagai Bipolar AMI, kecuali bila suatu deretan nol delapan di gantikan oleh dua deretan dari kode penyimpangan
8. HDB3
sama sebagi Bipolar AMI, kecuali bila suatu deretan nol empat digantikan oleh satu deretan kode penyimpangan
Format pengkodean sinyal digital
Format Data
 Bit (Binary Digital)
bagian terkecil dari data digital
 Nibble
ukuran = 4 bit
 Word
ukuran = 2 byte
 BCD
ukuran = 1 byte (4 bit)  SBCDIC
ukuran = 1 byte (6 bit)
 EBCDIC
ukuran = 1 byte (8 bit)
 ASCII
ukuran = 1 byte (8 bit)
Teknik Pengkodean Data 
1. BCD (Binary Coded Decimal)
Ini merupakan kode binary yang di gunakan untuk mewakili nilai digit decimal saja, yaitu nilai angka 0 s/d 9. BCD menggunakan kombinasi dari 4 digit. Kode BCD digunakan pada komputer generasi pertama.
BCD 4 bit Digit Desimal
0000 0
0001 1
0010 2
0011 3
0100 4
0101 5
0110 6
0111 7
1000 8
2. SBCDIC ( Standard Binary Coded Decimal Intercharge code )
merupakan coding 6 bit untuk 64 karakter. posisi bit di SBCDIC dibagi menjadi 2 zone, yaitu 2 bit pertama (diberi nama bit A dan bit B) disebut dengan alpha bit position dan 4 bit berikutnya (diberi nama bit 8, bit 4, bit 2, dan bit 1) disebut dengan numeric bit position.
SBCICD SBCIDC
BA8421 Karakter BA8421 Karakter
001010 0 100001 J
000001 1 100010 K
000010 2 100011 L
000011 3 100100 M
000100 4 100101 N
000101 5 100110 O
000110 6 100111 P
000111 7 101000 Q
001000 8 101001 R
001001 9 010010 S
110001 A 010011 T
110010 B 010100 U
110011 C 010101 V
110100 D 010110 W
110101 E 010111 X
110110 F 011000 Y
110111 G 011001 Z
111000 H
111001 I
3.  EBCDIC (Extended Binary Code Decimal for Information Intercharge)
Ini merupakan kepanjangan dari Extended Binary Coded Decimal Interchange Code. Terdiri dari kombinasi 8-bit. Pada jenis ini high order bits atau 4-bit pertama disebut dengan zone bits dan low-order bits atau 4 bit kedua disebut dengan numeric bits.
merupakan coding 8 bit untuk 256 karak ter. Tranmisi asinkron membutuhkan 11 bit,yaitu :
1 bit awal – 8 bit data
1 bit pariti – 1 bit akhir
4. ASCII 7 (American Standard Code For Information Intercharge)
Ini merupakan kepanjangan dari America Standart Code for Information Interchange, yang dikembangkan oleh American National Standarts Institute (ANSI) untuk tujuan membuat kode binary yang standart. kode ASCII ini menggunakan kombinasi 7 bit. SSCII7-bit banyak digunakan oleh komputer generasi sekarang.
Coding standar yang sering digunakan oleh peralatan komunikasi data.
merupakan sandi 8 bit dimana 7 bit digunakan untuk bit data ditambah bit ke-8 sebagai bit pariti
Kode ASCII7-bit ini terdiri dari 2 bagian:
• Control characters, merupakan karakter yang digunaklan untuk mengontrol pengiriman atau trans misi.
• Informations characters, merupakan karakter-karakter yang mewakili data.
Binari Desimal Karakter Keterangan
0000000 0 NULL Null
0000001 1 SOH Start of Heading
0000010 2 STX Start of Text
0000011 3 ETX End of text
0000100 4 EOT End of transmission
0000101 5 ENQ ENQuiry
0000110 6 ACK Acknowledge
0000111 7 BEL BEL1
0001000 8 BS Backspace
0001001 9 HT Horizontal Tabulation
0001010 10 LF Line feed
0001011 11 VT Vertical Tabulation
0001100 12 FF Form feed
0001101 13 CR Carrage Return
0001110 14 SO Shift Out
0001111 15 SI Shift In
0010000 16 DLE Data Link Escape
0010001 17 DC1 Device Control 1
0010010 18 DC2 Device Control 2
0010011 19 DC3 Device Control 3
0010100 20 DC4 Device Control 4
0010101 21 NAK Negative Acknowledge
0010110 22 SYN Synchronous idle
0010111 23 ETB End of Transmission Block
0011000 24 CAN CANcel
0011001 25 FM End of Medium
0011010 26 SUB Substitute
0011011 27 ESC ESCape
0011100 28 FS File Separator
5. ASCII8-bit
ASCII8-bit terdiri dari kombinasi 8 bit, banyak digunakan karena mempunyai banyak kombinasi karakter. Komputer IBM PC menggunakan ini.
Manfaat dari Pengkodean Data
Pengkodean data adalah dapat membantu pada pengubahan kode dari bahasa manusia ke bahasa mesin. Kode yang biasa digunakan dalam pengkodean data adalah BINER,, BCD, OKTAL, HEKSADESIMAL. SISTEM PENGKODEAN DATA   

Rangkaian Logiika

bloging pendidikan wonogiri | 22:28 | 0 comments

ebelumnya kita telah mengenal gerbang dasar logika, apabila kita merangkai beberapa gerbang logika tersebut yakni Inverter (NOT), AND dan OR maka akan terbentuk suatu rangkaian logika. Pada artikel ini akan dibahas bagaimana membuat rangkaian logika berdasarkan dari persamaan Boolean atau sebaliknya serta menampilkan hasil keluaran-nya pada tabel kebenaran (truth table).

Membuat Rangkaian Logika Dari Persamaan Boolean

Sebagai contoh persamaan Boolean X = ĀB + C (dibaca: X = NOT ‘A’ AND ‘B’ OR ‘C’) bagaimana bentuk rangkaian logika-nya?
rangkaian-logika1Sedangkan tabel kebenaran untuk rangkaian logika di atas:
tabel-kebenaran-1Untuk mempermudah pemahaman pada tabel kebenaran di atas, kita ubah susunan input-nya agar berurutan sesuai dengan operasi persamaan Boolean pada rangkaian logika di atas.
tabel-kebenaran-2Dengan cara tersebut kita dapat dengan mudah memperoleh hasil keluaran (X) dari persamaan Boolean X = ĀB + C.

Membuat Persamaan Boolean Dari Rangkaian Logika

Jika diketahui suatu rangkaian logika seperti terlihat pada gambar berikut ini.
rangkaian-logika21Untuk mendapatkan persamaan Boolean dari rangkaian logika di atas, pertama, kita lihat pada masukan ‘A’ dan ‘B’ melewati gerbang AND sehingga keluaran pada U1 menjadi AB.
Kedua, keluaran U1 ini kemudian masuk ke input gerbang NOT (U2) sehingga keluaran U2 menjadi not-ab.
Terakhir, keluaran U2 dan masukan ‘C’ masuk ke gerbang OR (U3) sehingga menghasilkan not-ab-plus-c. Maka persamaan Boolean dari rangkaian logika di atas adalah x-eq-not-ab-plus-c.
rangkaian-logika22Tabel kebenaran untuk rangkaian logika dan persamaan Boolean di atas adalah sebagai berikut.
tabel-kebenaran-3

Membuat Rangkaian Logika Dari Interpretasi Tabel Kebenaran

Perancangan rangkaian logika seringkali diawali dengan menuliskan state keluaran yang dikehendaki, untuk kombinasi state masukan yang diberikan pada suatu tabel kebenaran. Dari interpretasi tabel kebenaran dapat diperoleh persamaan Boolean, persamaan tersebut kemudian disederhanakan untuk memperoleh rangkaian logika yang dikehendaki. Langkah-langkah interpretasi tabel kebenaran untuk memperoleh persamaan Boolean adalah sebagai berikut.
Contoh, diketahui tabel kebenaran sebagai berikut:
tabel-kebenaran-4Pertama, cari-lah baris-baris pada tabel kebenaran yang memiliki nilai keluaran X = 1 (satu). Pada tabel kebenaran di atas, baris-baris yang memiliki nilai keluaran X = 1 adalah baris 2, 6, 7, dan 8.
Kedua, buat-lah term yakni dengan memberikan tanda NOT (garis di atas) pada setiap variabel masukan yang bernilai ‘0’ (nol) seperti terlihat pada tabel berikut ini:
tabel-kebenaran-5Ketiga, hubung-kan semua term dengan operator penjumlahan (+) sehingga diperoleh persamaan Boolean berikut ini: persamaan-boolean1Keempat, Sederhanakan persamaan Boolean tersebut di atas:
persamaan-boolean2Kelima (terakhir), Buat rangkaian logika berdasarkan pada persamaan Boolean yang telah disederhanakan.




rangkaian-logika3